Akeelah and the Bee
Lebih dari seminggu sejak kita semua merayakan lebaran, semoga tahun ini maupun tahun - tahun berikutnya bisa menjadi lebih baik dari segala aspek. Momen lebaran kali ini bukan cuma menyenangkan tetapi juga ngasih banyak pelajaran. Diperjalanan menuju bandara yang cuma 30 menit itu jadi terasa panjang apalagi ditambah dengan pemandangan alam Bima yang ternyata bagusss banget ya. Enggak tahu kenapa aku baru sadar itu. Kalau dipikir - pikir aku sudah melewati banyak hal dalam hidup entah itu sedih, senang, jatuh, nangis dan hal - hal lain yang banyak ngasih pelajaran. Salah satunya dalam hal hubungan dengan lawan jenis. Iya, diusia yang hampir nginjak kepala orang ini aku jadi melihat kembali diriku di masa lalu. Bangga banget ternyata bisa sampai sejauh ini, banyak sekali perubahan dalam diri yang menjadi lebih baik (versi aku ya gatau kalau menurut orang lain).
Aku di usia remaja adalah anak perempuan yang fokus sama dirinya sendiri. Belajar dan belajar. Gimana caranya biar selalu dapat rangking, karena dulu kalau kita masuk tiga besar selalu dapat uang saku, sertifikat, dan bingkisan alat tulis. Jadi semangat dong? makanya saat itu belum benar - benar mikirin soal suka - sukaan. Meskipun diusia itu harusnya aku punya pacar atau minimal gebetan. Eitss, koreksi setelah diingat - ingat aku punya pacar pertama saat itu. Kalau orang dewasa nyebutnya cinta monyet. Dia itu temannya pacar sohibku. Kelasnya persis dilantai dua, diatas kelas kami. Setiap pulang sekolah selalu nungguin dihalte tempat anak - anak nunggu bemo tapi aku nggak ngetem disana karena lebih sering pulang jalan kaki lebih kurang 2 km. Selain karena nggak punya duit aku juga suka banget ngelewatin toko buku yang selalu update novel - novelnya tere liye dan teenlit yang lucu. Di lain hari dia nongkrong dibawah pohon besar depan mushala sekolah biasanya aku sama teman - teman bakal lewat situ kalau mau ke kantin, karena disitu jalan yang paling cepat dan nggak ramai. Hari itu dia nggak cuma nongkrong, merhatiin atau manggil - manggil nama doang tetapi sambil nyabutin bunga liar manis berwarna ungu depan laboratorium bahasa dan nyodorin bunga itu yang aku terima tanpa bilang terimakasih melainkan langsung kabur. Yang benar aja dikasih bunga terang - terangan didepan umum kayaknya dulu mukaku lebih mirip kepiting rebus, bukan apa - apa, bukan juga terharu tetapi lebih ke malu banget.
Ternyata dia nggak berhenti sampai disitu. Teman - temanku juga mulai kesal karena aku terlihat biasa - biasa aja dan lebih banyak kabur kalau ketemu dia. Akhirnya suatu kali waktu aku lagi asik - asiknya membolak balikkan majalah gadis (yang ada poster Rain super gede) yang dipajang depan toko buku tiba - tiba ada tangan yang menyodorkan novel terjemahan yang judulnya "Akeelah and the Bee". Novel itu jadi buku pertama yang aku miliki, dibaca dan selesai dalam dua hari. Oh iya, waktu buku itu disodorkan didepan wajahku, aku betul - betul bingung harus bereaksi seperti apa. Tiba - tiba saja cowok itu ngomong super cepat "Karena kamu terima buku itu berarti kita pacaran ya". Semburnya cepat lalu pergi tanpa menunggu jawaban dariku. Pinginnya bilang ogah tetapi dia sudah pergi, kebetulan aku juga suka banget sama buku yaudah dalam hati aku langsung bilang "nggak apa - apa deh pacaran kan udah dikasih buku". Maksud aku apa? nggak tahu :(
Kalau diingat - ingat hebat juga ya dia usahanya, nyamperin hampir tiap hari, nungguin dihalte meski akunya kabur duluan, sabar banget nggak bisa telfonan karena saat itu aku belum punya handphone, dia juga nggak malu ada disampingku dengan seragam yang mulai ngatung saat naik kelas sembilan, dia juga nggak berubah waktu akhirnya tahu orang yang dia suka tidak setara dalam berbagai hal, dia tahu keluargaku berantakan, orangtuaku pergi entah kemana, aku harus jadi joki tugas teman - teman agar bisa beli lks, dan sering jalan kaki biar pulang sekolah bisa beli kerupuk buat makan.
"Kamu lanjut sekolah dimana?". Tanya dia waktu aku baru selesai ujian praktik fisika.
"Di MA". Jawabku singkat sambil berjalan beriringan dengannya.
"Kenapa nggak di SMA aja?". Nadanya mulai terdengar bergetar.
"Kenapa harus?". Sambungku datar.
"Ya biar kita bisa ketemu terus". Jawabnya pelan
"Tapi aku suka sekolahnya". Dustaku.
Sebenarnya bukan karena suka sekolahnya, lanjut disana itu terpaksa. SPPnya murah sekali dibanding sekolah di SMA bergengsi itu. Padahal nilai - nilaiku juga bagus, sangat mudah untuk diterima SMA tersebut. Hanya saja kalau mau sekolah disana aku harus punya kendaraan atau kalau tidak harus ada uang saku lebih untuk bayar angkutan umum. Anak SMP yang hanya tinggal bersama kakak dan adiknya mana punya uang untuk bayar SPP dan uang sewa angkot belum lagi uang jajan setiap hari. Ya sudah, mau tidak mau lanjutkan saja di MA dekat rumah yang bisa dijangkau dengan jalan kaki sepanjang 1 km itu. Kalau lapar tidak perlu bingung tinggal pulang cepat. Aku tau jalan pintasnya. Tinggal nyebrang sungai modalnya hanya perlu keberanian. Awalnya berat dan kesal. Satu tahun pertama di MA nggak menyenangkan sama sekali. Aku menciptakan jarak yang panjang dengan banyak orang. Tujuan utamaku sekolah. Tetapi ada hal yang mengganggu pikiranku. Dia cowok itu sudah mulai hilang kabar. Tidak pernah lagi meng-update status di facebook. Juga tidak lagi terlihat mondar mandir depan sekolah dengan vario favoritnya yang mulai penuh dengan list spotlite yang menyala itu.
Setahun lalu aku hadir di acara pernikahannya. Lega, akhirnya dia bisa menemukan yang setara dan membangun hidup yang layak dan lebih dari baik. Terimakasih yaa sudah baik sama aku saat itu.
Komentar
Posting Komentar