Being A Teacher

"Rasanya pengen rangkul semuanya, tapi sayang tanganku hanya dua"


Kalau lihat lagi kebelakang, ternyata ada banyak hal yang sudah terjadi dan menjadi pelajaran yang berharga. Pekerjaan yang dulunya nggak pernah diinginkan justru membuatku melihat dunia dari sisi yang lain. Menjadi guru ternyata tidak semudah bayangan anak umur empat belas tahun. Dulu mikirnya aku yang akan mengajarkan banyak hal sama mereka. Nyatanya mereka justru memberikan dua kali lipat pelajaran. Membersamai anak - anak yang menginjak masa remaja ini rasanya nano - nano, sulit dijelaskan dan yang lebih mengejutkan malah menjadi saksi bisu berbagai macam rumah tangga. Rumah tangga yang harmonis, yang biasa saja, bahkan hancur. Secara tidak langsung menyadarkanku bahwa menikah tidak bisa hanya "yang penting nikah". Terlihat perbedaan yang jauh antara anak yang lahir dari orangtua yang siap segalanya dengan yang memaksa untuk siap menjalani semuanya sesuai alur. 

Anak - anak yang lahir dari keluarga yang harmonis, mapan secara emosi, mapan finansial dan kehadiran kedua orangtuanya utuh meski sama - sama pekerja akan menghasilkan anak - anak dengan tingkat kepercayaan diri yang bagus, pandai mengelola emosi, tenang, fokus dan lebih mudah menyerap pembelajaran. Aku memang belum pernah membaca jurnal resmi tentang ini, tetapi secara lapangan itulah yang ditemukan. Berbeda dengan anak - anak yang lahir dari keluarga yang kurang dari segi ekonomi yang otomatis juga kurang dalam pengendalian emosi akan lebih sulit dalam menerima pelajaran. 

Tujuh tahun menjadi seorang guru menyadarkan aku bahwa semua pihak perlu terlibat aktif dalam membersamai pembelajaran dan pendidikan seorang anak. Baru - baru ini aku baru menyelesaikan sebuah drama korea yang berjudul "Teach You A Lesson", sebagai seorang guru hadirnya drama ini harusnya bisa membuka pikiran semua orang yang terlibat entah itu siswa, orangtua, guru bahkan pemerintah. Sebagai seorang anak, dulu pernah sekali dipaksa untuk mengikuti semua hal yang diinginkan ibu menjadi anak dengan nilai yang bagus. Jika tidak tiap pukulan itu akan terus mendarat ditubuh mungil kami. Tidak jarang rasanya melihat seperti melihat seseorang yang menakutkan, seseorang yang rasanya akan membuatku terancam dan merasa sesak hingga sulit bernapas. Ibu selalu ingin memiliki anak yang mampu memenuhi ekspektasinya, pintar, baik, lemah lembut, penurut. Harus bisa semua. Beliau bilang kami harus melakukan itu semua agar keluarga kami tidak lagi dihina oleh keluarga ayah. Setiap malam harus belajar dalam keadaan suara televisi yang gaduh, berangkat dan pulang sekolah berjalan kaki berkilo - kilo meter, tidak punya buku karena kami tidak punya uang, seragam yang kekecilan dan beberapa bagian yang robek. Aku hanya berharap masa sekolah harus segera selesai agar hal - hal yang menyesakkan ini segera berakhir. 

Di sisi lain, sebagai seseorang yang kini telah dewasa aku mengerti sekali mengapa dulu ibu bersikap seperti itu. Beliau hanya tidak ingin kami sebagai anak merasakan hal yang sama. Sama - sama terpuruk tanpa bisa melakukan apapun kecuali memaksa anak memenuhi apa - apa yang dulu tidak bisa aku capai. Tetapi, sebagai orang dewasa yang berpendidikan dan melihat banyak hal dari berbagai sisi aku tidak akan melakukan hal yang sama seperti ibu. Tidak boleh ada hati dan tubuh lain yang terluka seperti apa yang dulu aku rasakan karena lukanya bahkan tidak bisa diketahui bisa sembuh atau tidak. 

Sebagai seorang guru pun, rasanya dilema dan campur aduk. Anak - anak jaman dulu dengan sekarang sungguh berbeda dari berbagai sisi. Mungkin karena pengaruh globalisasi atau entahlah. Dulu, mengangkat wajah dan bertemu tatap dengan guru rasanya membuat sekujur tubuh gemetar. Guru adalah yang paling kami takuti apapun pelajaran yang di ampu. Tidak ada campur tangan orangtua dalam proses pendidikan yang kami jalani. Jika mulut berani mengadu tentang pukulan yang diberikan guru karena kami tidak mengerjakan tugas, maka kami yang akan dihajar habis - habisan oleh orangtua dirumah karena mereka percaya bahwa tidak ada seorang guru yang gila dengan memarahi seorang anak jika tidak melakukan sebuah kesalahan. Sekarang? Hanya terlambat membalas pesan karena sedang bekerja saja bisa dilaporkan ke dinas setempat. Sungguh, aku pernah mengalaminya. Di ancam karena terlambat membalas pesan orangtua siswa diimana posisi sedang dalam perjalanan pulang sekolah. Tidak hanya itu, dibentak dan di maki - maki karena terlambat mengurus administrasi kepindahan seorang siswa karena disaat yang sama sedang mengerjakan hal yang urgent. Oh iya dilaporkan juga ke dinas terkait. Diprotes terus melalui chat bahkan diluar jam kerja karena memberikan tugas kepada siswa dan menegurnya ketika tidak mengerjakan tugas bersama teman. 


Semakin hari rasanya semakin ragu untuk tetap terus melanjutkan pekerjaan ini. Rasanya tidak sanggup menghadapi hari yang terlalu berat setiap harinya. Membayangkan harus bangun sangat pagi untuk mengajarkan siswa - siswa yang enggan belajar karena merasa memiliki orangtua yang mempunyai uang dan kuasa, menghadapi siswa yang dengan mudah meremehkan juga menyiarkan berita tidak benar agar dia tetap aman dan berbagai jenis lainnya yang rasanya sangat sesak untuk diingat.




Komentar

Postingan Populer